Ikhlas Itu Boleh Menangis


 Sejak kecil, saya sudah terbiasa dengan satu kenyataan, bapak saya tidak ada.

Ia pergi, entah ke mana, dan tidak pernah benar-benar kembali. Tidak ada hari perpisahan yang jelas. Tidak ada kabar, tidak ada kalimat terakhir, tidak ada pelukan yang bisa saya kenang. Yang ada hanya kekosongan yang pelan-pelan menjadi bagian dari hidup sehari-hari, seperti perabot di rumah yang lama lama tidak lagi kita sadari keberadaannya, padahal ia selalu ada di sana.

 Waktu kecil, saya belum paham apa yang sebenarnya hilang. Saya hanya tahu bahwa ada kursi yang tidak pernah terisi, dan ada pertanyaan yang tidak pernah berani saya ajukan. Saat teman-teman bercerita tentang bapak mereka, saya diam dan mendengarkan. Saat hari pembagian rapor tiba, saya melihat bapak-bapak lain menunggu di depan kelas, dan saya belajar untuk tidak terlalu lama menatap mereka.

 Lama-lama, ketiadaan itu menjadi hal biasa. Bukan karena tidak sakit, tapi karena saya tidak punya pilihan lain selain terbiasa.

  Tentang Terbiasa

 Karena itu, ketika ada yang bertanya apakah saya sudah mengikhlaskannya, jawaban saya sederhana, sudah.

 Bukan karena saya kuat sejak awal. Bukan pula karena ada satu momen ajaib ketika semuanya terasa lepas. Saya mengikhlaskannya sedikit demi sedikit, hari demi hari, tanpa sadar, sampai suatu ketika saya menyadari bahwa saya sudah bisa menyebut namanya tanpa dada yang sesak. Itu bukan keputusan. Itu hasil dari waktu yang sangat panjang.

 Tapi saya ingin jujur pada satu hal kata ikhlas itu terdengar begitu berat dan sakral.

 Seolah-olah orang yang ikhlas adalah orang yang sudah selesai. Tidak lagi sedih, tidak lagi marah, tidak lagi bertanya kenapa. Seolah-olah ikhlas adalah gelar yang diberikan kepada mereka yang berhasil menghapus semua rasa. Akibatnya, banyak orang yang sedang berduka merasa bersalah karena masih menangis. Mereka merasa gagal karena belum bisa ikhlas secepat yang orang lain harapkan.Padahal bukan begitu cara kerjanya.

Rasa Itu Wajar

Saya pernah marah. Saya pernah kecewa. Saya pernah sedih sampai dada terasa penuh dan tidak tahu harus dibawa ke mana. Dan semua itu wajar, sangat manusiawi.

Itulah gunanya kita diberi rasa. Kita tidak diciptakan sebagai batu yang menerima apa saja tanpa getar. Kita diberi hati supaya bisa merasakan kehilangan, dan supaya bisa belajar melewatinya. Marah, sedih, kecewa, bahkan terpukul bukanlah penghalang untuk ikhlas. Semua itu justru bagian dari jalannya.

Terkadang, memberi ruang bagi kesedihan membantu kita menjalani proses kehilangan dengan lebih jujur daripada terus-menerus memaksa diri untuk terlihat kuat. Menekan rasa tidak membuatnya hilang. Ia hanya pindah ke tempat yang lebih dalam, menunggu waktu untuk muncul lagi.

Pelajaran dari Seorang Teman

Beberapa waktu lalu, seorang teman datang dengan wajah murung. Ia baru kehilangan bapaknya, orang yang paling ia sayangi. Saya terdiam, tidak tahu harus berkata apa. Tidak lama kemudian ia pamit pulang ke kampung.

Setelah beberapa waktu, saya menelepon untuk menanyakan kabarnya. Suaranya sudah lebih tenang. Lalu ia berkata pelan, Ternyata susah ya menerima, apalagi mengikhlaskan.

Saya mengerti betul maksudnya. Ia baru berada di awal perjalanan, sementara saya sudah menjalaninya bertahun tahun. Dua posisi yang berbeda, tapi rasa yang sama.

Sebenarnya, saat itu saya sempat ingin menunjukkan bahwa ada juga orang yang kehilangan dengan cara lain. Tapi setelah telepon ditutup, saya sadar bahwa kehilangan tidak perlu diadu. Dia kehilangan bapak yang selama ini ada dan ia sayangi. Saya kehilangan bapak yang tidak sempat saya kenal. Rasanya berbeda, tapi sama-sama nyata. Tidak ada yang lebih berat atau lebih ringan. Yang ada hanya dua orang yang sama-sama belajar.

Dari percakapan itu saya belajar bahwa menerima bukan berarti berhenti merasa. Menangis bukan tanda gagal mengikhlaskan. Sedih bukan tanda kita cengeng. Terpukul bukan tanda lemah. Semua itu hanyalah cara hati mengatakan bahwa orang yang pergi itu berarti.

Ikhlas Bukan Garis Akhir

Mungkin selama ini kita keliru membayangkan ikhlas. Kita mengira ia seperti garis finis. sekali dilewati, selesai, dan kita boleh berhenti berlari. Padahal ikhlas lebih mirip jalan panjang yang kita lalui sambil tetap membawa rasa. Ada hari ketika langkah terasa ringan. Ada hari ketika tiba-tiba kita tersandung oleh kenangan kecil. aroma tertentu, lagu lama, atau pemandangan seorang anak yang digandeng bapaknya menyeberang jalan.

Dan itu tidak apa-apa. Tersandung bukan berarti kita kembali ke titik awal. Itu hanya tanda bahwa cinta dan rindu itu masih ada, dan kita tetap manusia.

Terbiasa pun tidak sama dengan tidak merasa. Terbiasa berarti kita sudah belajar hidup berdampingan dengan kehilangan, bukan menyingkirkannya. Kita memberi tempat bagi rasa itu, tanpa membiarkannya menguasai seluruh hidup.

Untuk Kamu yang Sedang Menangis

Jadi kalau hari ini kamu sedang menangis karena kehilangan, menangislah. Kamu tidak sedang gagal. Kamu tidak kurang kuat dan tidak kurang tegar. Kamu sedang menjalani salah satu hal paling manusiawi dalam hidup.

Kalau ada orang yang berkata, Sudah, ikhlaskan saja, dan kamu belum sanggup, tidak apa-apa. Ikhlas tidak punya batas waktu. Ia tidak bisa dipaksa datang lebih cepat. Ia tumbuh pelan-pelan, di tempatnya sendiri, sesuai ritme hatimu.

Dan kalau suatu hari kamu merasa sudah berdamai, lalu tiba-tiba rindu itu menyerang lagi, jangan buru buru menyalahkan diri. Itu bukan kemunduran. Itu hanya cara hatimu mengingat.

Ikhlas itu boleh menangis. Dan menangis tidak membuat kita kurang ikhlas.


Salam hangat, Lembaran Kisah Hidupku 🌱

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Selamat datang di Lembaran Kisah Hidupku, Blog Otobiografi Resmi karya Johan Dwi Yanto. Ruang jujur yang merajut kepingan ingatan, refleksi spiritual, dan kisah perjuangan nyata dari tanah perantauan. Di sini, setiap luka dirawat dengan ngaji rasa untuk memetik hikmah kedewasaan hidup dan berserah penuh kepada Allah SWT.

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip Blog

Mengenai Saya

Foto saya
Dan jangan pernah berhenti berbuat baik, meskipun banyak orang lain yang jahat padamu.
Argyle Creme Template © by beKreaTief | Copyright © Lembaran Kisah Hidupku