Belajar Melepaskan Bukan Berarti Menyerah

 Selama ini saya mengira melepaskan adalah tanda kalah. Orang yang melepaskan, pikir saya, adalah orang yang tidak sanggup bertahan.

Hidup mengajari saya sebaliknya, dan caranya tidak lembut.

Pertama kali saya belajar melepaskan, saya belum tahu namanya. Waktu itu saya berusia tujuh tahun, dan rumah tempat saya lahir mendadak bukan lagi milik kami. Tidak ada yang bertanya apakah saya siap. Dari situ saya belajar bahwa tempat bisa hilang, tapi hidup tetap harus berjalan.

Yang kedua adalah melepaskan kekecewaan. Ada orang-orang dalam keluarga yang dulu membuat saya sakit hati. Saya bisa saja menyimpannya seumur hidup, atau membalasnya. Tetapi saya memilih menghormati mereka sebagai Pakde dan Bude saya, apa pun yang pernah terjadi, dan menyerahkan sisanya kepada Allah. Itu bukan berarti saya lupa. Saya hanya tidak mau membawa batu itu ke mana-mana.

Yang ketiga adalah yang paling sulit, karena yang saya lepaskan adalah tempat dan orang yang saya sayangi.

Di tanah rantau, saya menemukan keluarga yang tidak sedarah. Mereka memberi saya tempat tinggal, pekerjaan, dan rasa dianggap. Tapi ketika saya mendengar kabar bahwa Mamah ada di Bogor, saya tahu saya harus pulang. Mas pada awalnya tidak mengizinkan. Saya hanya bisa diam dan menangis. Saya tidak sedang menentang siapa pun. Saya hanya tahu bahwa ada panggilan yang tidak bisa saya abaikan, dan saya juga tidak ingin meninggalkan mereka.

Akhirnya Mas berkata, Mas bukannya melarang kamu pergi. Kalau memang kamu sudah bulat, Mas izinkan. Dan sebelum saya berangkat, ia menambahkan satu kalimat yang saya bawa sampai sekarang: pintu selalu terbuka.

Di situ saya mengerti. Melepaskan bukan menutup pintu. Ia berarti berjalan keluar, tanpa menutup pintu di belakang kita.

Saya pulang, dan hidup membawa saya ke banyak hal baru. Tahun-tahun berlalu, dan satu per satu orang yang pernah menolong saya berpulang. Saya belum sempat kembali menemui Mas. Bagian itu pun harus saya lepaskan dengan hati yang lapang, sambil tetap mengingat dan mendoakannya.

Sekarang saya memahami bahwa menyerah dan melepaskan berbeda. Menyerah berarti berhenti berusaha. Melepaskan berarti berhenti menggenggam sesuatu yang tidak lagi bisa kita bawa, supaya tangan kita bebas untuk memegang hal yang masih bisa kita jaga.

Kalau hari ini kamu sedang berat melepaskan sesuatu, entah tempat, orang, atau kekecewaan, itu bukan tanda kamu lemah. Mungkin justru tanda kamu sedang belajar menjadi lebih kuat.


Salam hangat, Lembaran Kisah Hidupku 🌱

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Selamat datang di Lembaran Kisah Hidupku, Blog Otobiografi Resmi karya Johan Dwi Yanto. Ruang jujur yang merajut kepingan ingatan, refleksi spiritual, dan kisah perjuangan nyata dari tanah perantauan. Di sini, setiap luka dirawat dengan ngaji rasa untuk memetik hikmah kedewasaan hidup dan berserah penuh kepada Allah SWT.

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip Blog

Mengenai Saya

Foto saya
Dan jangan pernah berhenti berbuat baik, meskipun banyak orang lain yang jahat padamu.
Argyle Creme Template © by beKreaTief | Copyright © Lembaran Kisah Hidupku