Ada masa ketika saya merasa hidup kami baik-baik saja.
Kami tinggal di sebuah kampung kecil di pinggiran Jakarta. Rumahnya sederhana, tapi di dalamnya ada tawa. Keluarga kami sedang berbahagia, dan saya, yang masih kecil, mengira kebahagiaan seperti itu akan menetap selamanya.
Itu rumah pertama saya. Di sanalah saya menyimpan banyak kenangan.
Kalau saya memejamkan mata dan mengingat tempat itu, yang pertama muncul adalah sebuah jembatan. Di bawahnya mengalir kali yang airnya berwarna hijau, tercemar limbah pabrik. Di sanalah kami, anak-anak kampung, sering berdiri memandangi kali itu, sementara suara pabrik terdengar tanpa henti, setiap saat. Jembatan itu tidak pernah bicara, tapi ia menjadi saksi hari-hari kami.
Bersama anak-anak sebaya, kami bermain bersama. Berlarian ke sana kemari tanpa alas kaki, tanpa beban, tanpa tahu apa itu masalah. Sambil melempar batu ke arah kali itu, kami menghabiskan sore demi sore. karena kalau siang, matahari begitu terik, terlalu panas untuk bermain di luar. Tapi begitu langit mulai berubah jingga, jalanan kampung menjadi milik kami.
Itu adalah masa di mana kebahagiaan tidak perlu dibeli. Cukup dengan teman, batu kerikil, dan sore yang panjang.
Rumah itu bukan rumah sembarangan bagi keluarga kami. Tanahnya dibeli bapak, lalu dibangun sedikit demi sedikit sampai menjadi tempat kami berteduh. Dananya berasal dari pinjaman kepada adik bapak, yang kami panggil Le, dan dibayar dengan cara dicicil sampai lunas.
Yang saya ingat dari proses pembangunannya adalah batu bata yang ditumpuk satu per satu, tukang yang datang dan pergi sesuai dana yang tersedia, dan bapak yang selalu mengawasi setiap sudut bangunan. seolah sedang menjaga sesuatu yang sangat berharga. Rumah itu tidak dibangun dalam semalam. Ia dibangun dengan kesabaran, keringat, dan doa. Setiap ada rezeki lebih, bapak langsung membeli bahan bangunan. kadang beberapa karung semen, kadang setumpuk batu bata. Rumah itu tumbuh perlahan, seperti mimpi yang dicicil sedikit demi sedikit.
Dan ketika akhirnya rumah itu berdiri utuh, atapnya terpasang, dindingnya diplester, lantainya bisa dipijak. saya ingat bapak berdiri di depan pintu, menatapnya lama. Saat itu saya belum mengerti mengapa tatapan beliau begitu dalam. Sekarang saya tahu, itu adalah tatapan seorang ayah yang berhasil memberikan atap untuk keluarganya.
Saya tidak tahu bahwa suatu hari tempat itu akan hilang.
Tapi saat itu, di rumah pertama kami, saya hanya tahu satu hal. bahwa saya punya rumah, punya keluarga, dan punya kebahagiaan yang saya kira tidak akan pernah berakhir.
📌 Catatan Penulis: Bab 2 dan Bab 3 sengaja disimpan rapat di dalam laci waktu. Mari melompat dulu ke Bab 4 untuk melihat ke mana takdir membawa anak kecil ini pergi...
Salam hangat, Lembaran Kisah Hidupku 🌱

Tidak ada komentar:
Posting Komentar