Di antara obeng, solder, dan layar monitor, saya menemukan ketenangan. Dan di antara kata-kata, saya menemukan makna.
Dulu, saat rasa sakit itu datang, lidahku sering kali lebih tajam dari pisau. Aku pernah mengucapkan umpatan dan kata-kata keras kepada orang yang menyakitiku. Saat itu, egoku berteriak bahwa aku adalah korban, dan aku merasa paling benar. Aku membela diri dengan cara yang justru melukai orang lain.
Namun, seiring waktu berjalan, aku belajar bagaimana cara mengolah rasa ini. Aku menyadari bahwa saat manusia merasa tersakiti, sifat naifnya sering kali muncul. merasa paling benar dan lupa diri. Tapi aku tidak lagi membenarkan itu. Aku belajar bahwa kita adalah makhluk sosial. Kita tidak bisa berdiri sendiri di dunia ini. Kata-kata yang tidak pantas, seapapun alasannya, hanya akan meninggalkan luka baru, baik bagi orang lain maupun bagi hati kita sendiri.
Sekarang, aku berusaha memfilter setiap kata sebelum meluncur dari bibir. Bukan karena aku takut, tapi karena aku ingin menjadi pribadi yang lebih bijak. Dan di atas segalanya, aku sadar bahwa kebenaran mutlak itu bukan milikku, bukan juga milik mereka. Kebenaran mutlak hanya milik Allah SWT. Dzat Yang Maha Benar, Yang Maha Mengetahui apa yang terjadi di dalam dada, dan Yang Maha Melihat setiap tetes air mata yang jatuh.
Kepada-Nya lah aku menyerahkan semua. Kepada-Nya lah aku belajar untuk menjadi manusia yang lebih baik.
Di blog Lembaran Kisah Hidupku ini, aku tidak akan menceritakan masa lalu untuk menuntut keadilan. Aku menulis untuk berbagi hikmah, untuk berdamai, dan untuk membuktikan bahwa di setiap jalan yang berliku, Allah selalu menyiapkan ketenangan di akhirnya.
Selamat membaca. Mari kita belajar menjadi manusia yang lebih baik, satu lembaran demi satu lembaran.
Salam hangat, Lembaran Kisah Hidupku 🌱


Tidak ada komentar:
Posting Komentar