![]() |
|
Hidup di dalam rumah Rantau Jaya setelah kebenaran tentang modal Ibu terungkap terasa seperti berjalan di atas pecahan kaca. Setiap langkah terasa canggung, setiap sudut ruangan menyimpan tekanan yang berat. Rasa percaya yang sempat membubung tinggi saat perjalanan seolah luruh dalam sekejap. Namun, di hadapan Ibu dan adik saya, saya memilih untuk tetap melangkah dengan tegak. Di usia remaja yang masih sangat belia, hidup memaksa saya belajar satu hal penting. menjadi dewasa bukan berarti kita harus melupakan luka, melainkan memilih untuk tidak membiarkan luka itu mengotori kesucian jiwa kita.
Saya memilih untuk menyerahkan urusan keadilan ini sepenuhnya kepada Allah SWT. Biarkan Tuhan yang mengurus dan menguji hati manusia, bisik saya dalam doa di keheningan malam. Saya sadar, jika saya merawat kebencian di dalam dada, maka saya hanya akan menurunkan level kehormatan diri saya sendiri ke titik yang paling rendah.
Namun, ujian yang sesungguhnya datang bukan dari riak-riak perbedaan sikap di dalam rumah, melainkan dari hantaman realitas ekonomi yang kian hari kian mencekik. Saat itu, waktu pendaftaran sekolah baru telah tiba. Saya memantapkan niat untuk melanjutkan pendidikan ke Sekolah Teknik Mesin (STM) .sebuah pilihan yang sangat logis di kepala saya agar bisa cepat menguasai keahlian kerja dan segera membantu meringankan beban Ibu. Sementara adik saya bersiap untuk memasuki bangku sekolah menengah pertama.
Pakde, sempat menawarkan diri untuk mengantarkan saya mendaftar ke STM di pusat kota, yang berjarak sekitar satu jam perjalanan dari rumah. Dengan mengendarai motor, saya sempat merasakan secercah harapan kecil. Saya mengira, perjalanan ini adalah bentuk ketulusan beliau untuk membantu membiayai kelangsungan pendidikan kami.
Namun, sesampainya di rumah pada sore hari, realitas kembali membangunkan saya dengan cara yang sangat berjarak.
Di dalam kamar, saya mendapati Ibu sedang duduk terkurung sepi sambil menatap sebuah kotak perhiasan yang telah kosong. Air matanya mengalir tanpa suara. Demi melunasi seluruh biaya pendaftaran sekolah saya dan adik, Ibu terpaksa merelakan dan menjual satu-satunya kalung emas yang melekat dilehernya itu. sebuah benda berharga yang menjadi satu satunya terakhir yang ibuku punya pada waktu itu.
Ketika Ibu mencoba menanyakan perihal sisa simpanan modal kerja miliknya kepada Pakde, jalan keluar yang diberikan terasa begitu dingin. Beliau menyampaikan bahwa untuk saat ini, merelakan perhiasan tersebut adalah satu-satunya jalan agar kami bisa tetap bersekolah.
Ibu menangis lebih dalam. Bukan karena goyah kehilangan materi, melainkan karena harus menerima kenyataan betapa sulitnya berharap pada darah daging sendiri di tengah situasi yang mendesak. Di sudut ruangan itu, saya mengepalkan tangan erat-erat. Rasa perih di dada itu seketika mengkristal menjadi sebuah tekad baja. Baiklah,
Jika hari ini kami harus berdiri di atas kaki sendiri, maka saya akan berjuang dengan seluruh sisa tenaga saya. Suatu hari nanti, saya akan memastikan Ibu tidak pernah lagi harus menjual kenangan dan air matanya demi masa depan kami.
Jika hari ini kami harus berdiri di atas kaki sendiri, maka saya akan berjuang dengan seluruh sisa tenaga saya. Suatu hari nanti, saya akan memastikan Ibu tidak pernah lagi harus menjual kenangan dan air matanya demi masa depan kami.
Salam hangat, Lembaran Kisah Hidupku 🌱


Tidak ada komentar:
Posting Komentar