Ada masa ketika saya mengira luka adalah sesuatu yang harus disembunyikan. Saya menyimpannya rapat-rapat, seperti barang yang memalukan, berharap suatu hari ia menghilang sendiri.
Ia tidak pernah benar-benar hilang. Yang berubah adalah cara saya memandangnya.
Sekarang, bertahun-tahun kemudian, saya bisa duduk tenang dan berkata. luka itu bukan musuh. Ia adalah guru yang datang tanpa saya undang, mengajarkan pelajaran yang tidak akan pernah saya temukan di buku mana pun. Dan caranya mengajar sering kali menyakitkan.
Guru yang Tidak Pernah Menjelaskan
Luka bukan guru yang ramah. Ia tidak memberi penjelasan di awal, tidak memberi tahu berapa lama pelajarannya akan berlangsung, dan tidak peduli apakah kita sudah siap. Ia hanya hadir, lalu kita dipaksa belajar.
Saya baru memahami pelajarannya jauh setelah ujiannya lewat. Saat sedang terluka, yang saya rasakan hanya sakit. Baru ketika waktu berjalan, saya melihat bahwa ada sesuatu yang tumbuh di sela-selanya.
Arti Sebuah Kehadiran
Orang yang pernah kehilangan biasanya paling mengerti nilai sebuah kehadiran. Saya jadi memperhatikan hal-hal yang dulu terasa biasa. orang yang mau mendengarkan, orang yang menyapa tanpa diminta, orang yang sekadar duduk di samping kita saat kita tidak sanggup bicara.
Orang yang pernah kekurangan akan mengingat setiap tangan yang terulur, sekecil apa pun.
Belajar Memahami Luka Orang Lain
Luka membuat saya lebih peka. Saya tidak lagi mudah menghakimi orang yang tampak dingin, pendiam, atau keras. Saya sadar bahwa di balik sikap seseorang sering ada cerita yang tidak pernah ia ceritakan.
Karena itu, ketika seorang teman datang dengan wajah murung, saya belajar untuk tidak buru-buru memberi nasihat. Kadang yang dibutuhkan bukan jawaban, melainkan telinga yang mau mendengar dan hati yang tidak terburu-buru.
Kembali Menemukan Pegangan
Di bab pertama saya menulis tentang tauhid sebagai jangkar. Di situlah saya sadar bahwa luka mengajarkan satu hal lagi. manusia butuh sesuatu untuk berpegang. Saat orang-orang bisa pergi dan keadaan bisa berubah, harus ada pegangan yang tidak ikut bergeser.
Luka membuat saya bertanya, dan pertanyaan itu membawa saya pulang kepada keyakinan. Tanpa kehilangan, mungkin saya tidak akan pernah sedalam itu mencari tempat bersandar.
Kejujuran yang Menyelamatkan
Pesan itu tidak datang di ruang yang khusyuk. Kami sedang memperbaiki motor, tangan sama-sama berminyak, dan obrolan bermain dengan bunyi kunci pas. Almarhum kakak angkat saya adalah seorang montir. Ia punya bengkel, ternak ayam potong, dan kebun sawit. Hidupnya dijalani dengan kerja keras, bukan dengan kata-kata besar.
Di sela pekerjaan itulah ia berkata, tanpa menoleh, seolah hanya bicara soal baut yang kendor: Kalau ingin sukses di mana pun kamu menetap, entah di pabrik, sebagai pengusaha, atau berwirausaha, kuncinya cuma satu, jujur. Jujur kamu terapkan dalam hidupmu, kamu akan selamat.
Kalimat itu keluar dari orang yang pernah menyelamatkan hidup saya.
Saat saya berada dalam keterpurukan di tanah rantau, saat luka datang dari orang yang seharusnya melindungi, yaitu saudara dari pihak ibu sendiri, justru orang lain yang tidak sedarah mengulurkan tangan. Ia tidak bertanya panjang dan tidak meminta apa-apa. Ia menganggap saya adiknya sendiri.
Dari situ saya belajar bahwa keluarga tidak selalu ditentukan oleh darah. Kadang saudara yang sebenarnya adalah orang yang memilih hadir ketika kita tidak punya siapa-siapa.
Sebagian detail kejadian itu sengaja tidak saya tuliskan. Bukan karena saya lupa, tetapi karena saya memilih menghormati mereka yang masih hidup. Cukuplah saya katakan bahwa saya pernah jatuh, dan ada seseorang yang mengangkat saya tanpa pamrih.
Seiring waktu saya mengerti, kalimat sesederhana itu ternyata sangat berat dijalani. Jujur tidak selalu menguntungkan dalam jangka pendek. Kadang ia membuat kita rugi atau terlihat kalah. Namun orang yang jujur tidak perlu menghafal kebohongannya, tidak perlu takut ketahuan, dan bisa tidur dengan tenang.
Kebaikan yang Tak Terlupakan
Dari kebaikan itulah saya memegang satu prinsip:
Kalau ada orang yang pernah menolongmu, dan kamu masih bisa membalasnya, balaslah. Tapi kalau kamu belum mampu membalas kebaikannya, hendaklah kamu selalu mengingatnya.
Bagi saya, kejujuran dan balas budi saling menjaga. Orang yang jujur tidak akan pura-pura lupa pada orang yang pernah menolongnya. Dan orang yang mengingat kebaikan akan lebih mudah menjaga kejujurannya.
Kini beliau telah berpulang, dan saya tidak sempat membalas semuanya. Maka yang bisa saya lakukan adalah mengingat. menyebut namanya dalam doa, menceritakan kebaikannya kepada orang lain, dan meneruskan kebaikan itu kepada siapa pun yang membutuhkan.
Mungkin begitulah cara luka bekerja sebagai guru. Ia membuat kita tahu rasanya sendirian, sehingga kita tidak pernah melupakan siapa yang pernah menemani.
Menerima & Ikhlas itu Butuh Proses
Saya pernah menulis bahwa ikhlas itu boleh menangis. Itu pelajaran yang paling mahal harganya. Ikhlas bukan perintah yang sekali dijalankan lalu selesai, tetapi latihan seumur hidup. Ada hari ketika ia terasa ringan, ada hari ketika ia terasa berat, dan keduanya wajar.
Luka yang Tidak Lagi Mengendalikan
Mungkin ini transisi terpenting yang saya alami. Dulu luka itu yang mengatur saya. cara saya bereaksi, cara saya takut, cara saya menjaga jarak. Sekarang saya yang memegang kendali atas bagaimana ia boleh hadir.
Ia masih ada. Sesekali ia mengetuk, lewat lagu lama, lewat pemandangan sederhana, lewat obrolan yang tak sengaja menyentuhnya. Tapi saya tidak lagi menutup pintu. Saya membiarkannya masuk, duduk sebentar, lalu pergi dengan sendirinya.
Luka yang sudah berdamai tidak lagi berteriak. Ia berbisik, dan bisikannya sering berisi pelajaran.
Untuk Kamu yang Masih Belajar
Kalau hari ini kamu masih di tengah lukamu, saya tidak akan berkata bahwa semuanya akan cepat membaik. Saya hanya ingin mengatakan. kamu tidak sedang membuang waktu. Setiap rasa sakit yang kamu lalui dengan jujur sedang mengajarkan sesuatu, meski belum terlihat sekarang.
Tidak semua luka harus dilupakan. Ada yang cukup dipahami, lalu dibawa dengan lebih ringan.
Dan suatu hari, mungkin tanpa kamu sadari, kamu akan menoleh ke belakang dan berkata dengan tenang, terima kasih, sudah mengajarkan saya banyak hal.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar