Bab 4: Palu, Batu, dan Rumah Nenek

Setelah kenaikan ke kelas tiga, sesuatu yang tidak saya duga terjadi: bapak datang.

Ia datang menjemput kami bertiga. Mamah tidak ada di sana. Ia sudah kembali ke Jakarta untuk bekerja, jadi ia tidak pernah tahu apa yang terjadi hari itu. Kehadiran bapak yang tiba-tiba membuat hati saya berkecamuk antara rasa kaget, bingung, sekaligus ada sedikit titik aman karena kembali melihat sosoknya.

Tak lama kemudian, orang-orang dewasa beradu mulut. Saya tidak mengerti persis apa yang mereka perdebatkan. Saya hanya berdiri di depan pintu, mendengar suara-suara yang meninggi dan dipenuhi ketegangan.

Kakak tertua saya menyuruh saya menutup telinga supaya tidak mendengar pertengkaran itu. Adik saya pun sama, tidak mau melihat orang-orang dewasa bertengkar. Kami bertiga tidak bisa berbuat apa-apa selain menunggu semuanya selesai. selain saling menguatkan dalam diam, menunggu badai pertengkaran itu reda.

Pada akhir perdebatan, keputusan diambil dan kami dibawa pergi. Bapak menitipkan kami bertiga kepada Nenek—ibunya—yang kebetulan tinggal tidak jauh dari sekolah kami.

Rumah Nenek terasa jauh lebih tenang. Beliau tinggal sendirian di rumah yang luas dengan banyak kamar kosong. Setelah melewati hari-hari yang penuh ketegangan, kesunyian di rumah Nenek terasa seperti ruang teduh untuk kembali bernapas. Nenek memiliki kebiasaan khas orang tua zaman dulu yang tidak pernah berubah: nginang, mengunyah sirih. Setiap kali saya masuk ke dalam rumah, aroma khas daun sirih dan tembakau langsung menyambut penciuman saya, memberikan rasa damai yang aneh di tengah situasi keluarga yang sedang retak.

Sayangnya, bapak tidak tinggal lama bersama kami. Setelah memastikan kami bertiga aman di rumah Nenek, beliau pergi lagi kembali ke Jakarta. Kami ditinggalkan begitu saja untuk mulai beradaptasi dengan lingkungan yang baru.

Selama kurang lebih dua tahun, saya menghabiskan masa kecil saya tinggal bersama Nenek. Letak rumahnya yang dekat dengan sekolah menjadi satu kemudahan kecil yang patut disyukuri di tengah badai yang sedang menguji keluarga kami.

Terkait nafkah dari bapak, sebagai anak kecil saya tidak pernah tahu pasti apakah beliau jarang mengirimkan uang atau tidak sama sekali. Yang paling sering mampir di telinga saya hanyalah omelan lirih Nenek di dapur, Bapakmu itu kebangetan, tidak pernah mengirim uang.

Untungnya, ada seorang bibi yang mengirim uang untuk Nenek, kadang sebulan sekali, kadang tiga bulan sekali. Kami memanggil semua adik perempuan bapak dengan sebutan  Le. Ia adalah Le yang sama, yang menurut cerita Mamah berkaitan dengan hilangnya rumah kami di Jakarta. Saya tidak pernah tahu pasti kebenaran cerita itu. Yang saya lihat sendiri, uang kirimannya membuat dapur Nenek tetap mengepul.

Saya hanya diam mendengar Nenek mengomel. Anak kelas tiga SD tidak punya tempat untuk membela siapa pun, apalagi bertanya.

Maka saya mau tidak mau ikut membantu Nenek. Setiap hari saya mengambil batu koral di sungai, membawanya pulang, lalu memukulnya dengan palu satu per satu sampai pecah menjadi serpihan split. Kalau sudah banyak, serpihan itu dijual per mobil colt pick-up. barulah batu split itu dijual kepada pembeli yang datang. 

Tangan yang seharusnya memegang mainan atau buku gambar sudah terbiasa memegang palu besi yang berat, di dekat pecahan batu yang tajam. yang siap melukai kulit kapan saja. Panas terik matahari yang membakar punggung dan peluh yang bercucuran menjadi makanan sehari-hari saya di beranda rumah Nenek.

Baru bertahun-tahun kemudian, ketika saya duduk merenung di keheningan malam di antara obeng, solder, dan monitor, saya menyadari satu hal. Dari setiap dentingan ketukan palu besi ke atas batu keras itulah, mental kedisiplinan, kemandirian, dan ketahanan hidup saya mulai ditempa. Semuanya tumbuh perlahan, dilahirkan dari peluh, debu jalanan, dan kerasnya masa kecil yang membentuk siapa saya hari ini.



Salam hangat,
Lembaran Kisah Hidupku 🌱


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Selamat datang di Lembaran Kisah Hidupku, Blog Otobiografi Resmi karya Johan Dwi Yanto. Ruang jujur yang merajut kepingan ingatan, refleksi spiritual, dan kisah perjuangan nyata dari tanah perantauan. Di sini, setiap luka dirawat dengan ngaji rasa untuk memetik hikmah kedewasaan hidup dan berserah penuh kepada Allah SWT.

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip Blog

Mengenai Saya

Foto saya
Dan jangan pernah berhenti berbuat baik, meskipun banyak orang lain yang jahat padamu.
Argyle Creme Template © by beKreaTief | Copyright © Lembaran Kisah Hidupku