Kapal laut itu berguncang pelan, membelah ombak yang membawa saya dan adik saya menyeberangi lautan dari Surabaya menuju Balikpapan. Perjalanan panjang dari Jawa ini dipenuhi oleh antusiasme yang membubung tinggi. Bagi saya yang baru saja lulus SMP, tanah perantauan ini terasa seperti tiket menuju masa depan yang cerah dan penuh janji manis.
Di sepanjang perjalanan, sepupu kami, yang menjemput dari Jawa. menjadi teman perjalanan yang sangat hangat. Di dalam bus hingga di atas dek kapal, ia terus-menerus menyodorkan makanan dan jajanan kepada kami.
Makan yang banyak, Han! Kalau lapar, nambah lagi! Jangan sungkan-sungkan, serunya dengan senyum lebar yang ramah.
Saya mengangguk patuh, menikmati setiap suapan nasi bungkus di pinggir jalan dengan rasa haru. Dalam pikiran polos seorang remaja belasan tahun, saya membatin, Wah, Sepupu, baik sekali. Keluarganya begitu dermawan dan peduli pada kami. Rasa syukur itu membuat lelahnya perjalanan menjadi tidak terasa.
Sesampainya di Pelabuhan Balikpapan, kami melanjutkan perjalanan menggunakan minibus kecil selama tiga jam menuju Rantau Jaya. Sepanjang jalan yang panas dan gersang itu, Sepupu tetap menjadi tuan rumah yang sempurna. Ia membelikan minuman dingin dan mengajak bercanda, membuat suasana terasa ringan. Saya tidak curiga sedikit pun. Saya pikir, inilah potret kesuksesan keluarga Pakde di perantauan. mereka murah hati, hangat, dan siap merangkul kami.
Namun, aliran realitas menghantam tepat ketika roda minibus berhenti di depan teras rumah mereka.
Belum sempat kaki saya menapakkan kaki di teras untuk menaruh barang, mata saya sudah bergerak liar mencari sosok Ibu. Begitu melihatnya berdiri di ambang pintu, dengan suara polos penuh kepercayaan anak kecil, saya langsung bertanya tanpa basa-basi:
Mah, mana restoran yang dijanjikan Pakde ke Mamah? Kami mau lihat.
Ibu tidak menjawab. Beliau hanya diam mematung, lalu perlahan, air matanya jatuh deras membasahi pipi.
Saya tertegun. Langkah saya mendadak kaku, tidak mengerti mengapa pertanyaan tentang sebuah restoran impian justru berujung pada tangisan yang begitu menyayat hati.
Kenapa nangis, Mah? Ada apa? tanya saya lagi, mulai dirundung rasa cemas.
Ketika Ibu akhirnya bercerita dengan suara yang bergetar, kata-katanya bagaikan petir di siang bolong. Modal kerja yang dikumpulkan Ibu dengan memeras keringat dan air mata selama bertahun-tahun di Malaysia. ternyata sudah habis terpakai untuk menopang usaha Pakde sendiri. Harapan tentang sebuah restoran yang megah seketika sirna.
Saat itulah, ingatan saya mendadak berlari mundur ke belakang. Ke momen-momen hangat di dalam bus, di atas kapal, dan di terminal saat Sepupu, membelikan kami makanan. Kepingan teka-teki itu mendadak menyatu dalam kepala saya:
Uang itu bukan uang Sepupu. Uang itu juga bukan uang dari kantong Pakde.
Itu adalah uang Ibu. Uang keringat Ibu yang dikembalikan kepada kami dalam bentuk nasi bungkus dan jajanan murah di sepanjang jalan. seolah-olah itu adalah hadiah kebaikan dari keluarga mereka. Rasa sesak dan kecewa bercampur aduk di dalam dada. Di tanah perantauan yang asing ini, ujian pertama kami justru datang dari lingkaran terdekat.
Mata saya kemudian teralih ke samping rumah. Di sana berdiri sebuah gerobak kecil yang sederhana, lusuh, dan berdebu. Sebuah gerobak bubur ayam. Jauh sekali dari kata restoran yang selama ini memenuhi ruang kepala saya dari Jawa. Di depan gerobak itulah, impian masa muda saya luruh ke tanah.
Kalau tahu begini, ngapain kita merantau jauh-jauh ke sini, Mah. Di Jawa juga banyak yang jualan bubur, ucap saya, menahan getar kecewa di tenggorokan.
Ibu hanya kembali terdiam dalam kepasrahan, tanpa pembelaan maupun penjelasan. Keheningan itu menegaskan bahwa kami kini harus bertahan di atas tanah baru ini.
Sepupu yang berdiri tidak jauh dari kami melihat situasi itu dengan wajah yang lelah setelah perjalanan. Dengan nada yang berusaha meredam suasana, ia bergumam pelan, Gak usah berlebihan atuh, Lik. Biasa aja.
Kalimat itu terasa berat di telinga saya, namun saya memilih untuk menarik napas dalam-dalam. Di dalam hati, Saya dewasa menyadari bahwa keadaan di perantauan sering kali mengubah arah dan sudut pandang manusia. Pakde, mungkin awalnya memiliki niat yang baik, namun hantaman badai hidup dan kerasnya persaingan di tanah rantau membuat janji manis itu tak kuasa dipertahankan.
Di samping saya, adik saya, menggenggam erat tangan saya. Ia masih terlalu muda untuk mengerti rumitnya kesalahpahaman dan kekecewaan ini. Yang ia tahu hanyalah kakaknya sedang terluka, dan ia harus tetap dekat sebagai tempat berlindung.
Hari itu, di teras rumah Rantau Jaya yang gersang, saya belajar satu pelajaran berharga yang tidak pernah tertulis di bangku sekolah: terkadang hidup memaksa kita untuk tumbuh dewasa lebih cepat dari usia kita. Namun, dari depan gerobak bubur di ujung harapan itulah, lembaran perjuangan yang sesungguhnya baru saja dimulai.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar